Dulu, waktu SMP bisa dibilang aku termasuk orang culun punya alias cupu. So, dulu itu aku SMP di Sekolah Bertaraf Internasional. System belajar pake laptoplah, berbahasa Inggris, dll. Famous dengan anak-anaknya yang pintar, cantik, anak orang kaya *bdw.. aku nyaris antonim dari ketiganya. Wkwk*
Uh pokoknya waktu jadi anak SBI itu, kalo lewat ditengah anak-anak kelas regular (kelas SBI cuma ada 2 kelas jadi ada 5 sisanya yang regular) serasa menjadi pusat perhatian *Ya kali.. karna waktu itu aku jalannya sama teman yang cantik, yang diperhatikan bukan akulah. Jelas~ Hm..*
Jadi pada zaman itu, kalo pulang sekolah kita naik angkot rame-rame sama teman-teman sekelas. (Angkot di kota kami disebut taxi. Udah lah yah, jangan tanya lagi “Loh, terus taxi disebut apa di sana?). Nah, persamaanya taxi di kota kami dengan taxi yang sebenarnya adalah kita bisa naik dengan rute kemana dan dimana saja. Perbedaannya, kita hanya perlu membayar sebanyak ongkos angkot bukan ongkos taxi yang pake argo. Then, system pengantarannya itu begin from yang rumahnya terjauh dulu trus kedua terjauh, dst.
Waktu itu if I wasn’t wrong, aku adalah pengantaran yang ke…..tiga. Oh iya, yang tidak kalah penting dari inti cerita ini adalah ongkos taxi waktu itu Rp. 1.500,-. Singkat cerita, waktu pengantaran orang kedua yang terjauh rumahnya selesai, ada teman yang nawarin diri untuk menebengkan ongkos taxinya (Namanya Tika. Dian Mustika. Haha aku masih ingat banget. LOL. )
Tika said waktu itu “Sapa yang mau ba nebeng den saya?” [dibaca: siapa yang mau nebeng sama saya?]. Jujur aja, at the time aku cuma diam. Bukan diam karna apa tapi karena tidak tau nebeng itu apa, kayak gimana? Serius! (mungkin itu akibat dari terlalu gengsi bertanya karena saking cupunya dan bergaul di antara mereka yang …. Ah sudahlah~ HIKS.) Sialnya adalah ... 1) waktu itu tidak ada yang bersuara ; 2) aku udah pegang duit karena selanjutnya kan aku yang turun dari taxi ; 3) Aku duduk pas didepannya. OHHH “,,,”
Alhasil, dia ambil uang  Rp. 1.000,- dari tanganku dan bilang “ngana jo. Sini nga pe uang” [dibaca: kamu aja. Sini uangmu]. Ya udah, waktu itu pasrah aja padahal dalam hati gengsi, ntar kalo aku nolak malah ditanyain alasan kenapa aku gak mau nebeng-_- And.. do you know apa yang aku pikir sepanjang perjalanan itu? LOL aku mikir keras!!! “Kenapa si Tika cuma ngambil uang Rp. 1.000,- dari tangan aku? kenapa dia gak ambil 500,- nya? Kenapa? Kenapa? Apa dia tidak lihat kalo aku megang uang 500,-? Atau dia lihat tapi dia nunggu aku sampe dulu di depan rumah? Atau dia mau ikhlasin? Atau apa???”
…Posisi taxi sudah belok kanan dan sudah berada di jalur kompleks.
(Ngomong dalam hati) “Trus ini yang 500,- nya gimana? Kasih aja sama dia? Atau tidak perlu? Pura-pura lupa aja deh ntar kalo dia ingat pas aku turun barulah aku sok bilang oh iya ya aku lupa. Atau gimanaaaa?”
*Ciiiiiiiiiiiiittt* om supir udah injak rem. Sampailah aku di depan rumah. Dan so far, berhubung aku orang yang tidak enakan sama orang lain, seketika aku turun lantas sambil memberikan uang 500,- kepada Tika tanpa peduli apa yang dia katakana saat itu. Tapi kalo gak salah waktu itu dia bilang “Yu.. kanapa nga kase saya lagi 500,-?” [dibaca: Loh kok.. kamu kasih aku lagi 500,-?]

HAHAHAHAHA. Till now, kalo dengar kata nebeng pasti ingat kejadian itu. Well, kalo di ingat2 lagi, kejadian itu lucu juga. Mix antara cupu, malu bertanya dan gengsi. Orang berbaik hati buat bayarin 500,- eh malah dikembaliin :D Sungguh.. betapa istilah “MALU BERTANYA SESAT DIJALAN” itu benar-benar pernah aku rasakan :’)