Para sufi secara gambling menjadikan
mawar sebagai bunga spiritual yang dapat menggairahkan jiwa setiap insan.
“wahai engkau, hidupkanlah dihatimu
sekuntum mawar merah yang harum dan menggairahkan jiwa spiritual kearah
pengenalan tuhan semesta alam, sebagai rahasia di dalam dirimu sendiri.”
Mawar. Ia cantik dan menawan. Menggoda
setiap orang yang melihatnya untuk memetik dan memilikinya tapi pada saatnya ia
akan gugur dan mati kemudian lenyap dari kehidupan ini.
Andai mawar bisa berbicara, ia akan
berkata “sesungguhnya dalam kehidupan ini tidak ada yang kekal dan abadi bahkan
apapun yang terlihat indah saat ini akan menjadi sesuatu yang terbuang dan tak
berarti suatu saat nanti”.
Bunga mawar mengajarkan kepada kita
untuk tidak menjadi orang yang lemah, mudah terbawa arus perasaan (dibaca:
baper), mencari kebahagiaan diatas kesedihan orang lain sebab kebahagian
hanya sesaat yang pada akhirnya akan berujung pada kehampaan dan menimbulkan
luka yang dalam.
Berbicara tentang mawar…
Jika belajar dari filosofi mawar, ia
adalah sosok bunga yang hidup secara mandiri dan didalam kessederhanaanya dan
tanpa iri melihat keindahan atau kemewahan yang disekelilingnya, namun bunga
mawar tetap akan memberikan keindahan yang mempesona dan bermanfaat bagi orang
lain. Dia bisa tumbuh ditempat yang tandus sekalipun.
Dan bila ia dipetik maka tak akan dapat
lagi tumbuh tetapi Mawar tersebut tidak akan langsung mati, keindahan sang
mawar tetap ada saat ia belum layu. Mawar sudahterbiasa hidup diatas tangkai
yang kecil serta dahannya yang penuh oleh duriyang menantang namun dia tetap
mampu mengatasinya dengan penuh kesabaran dankeikhlasan
Ketika sampai pada puncak kesuburannya
sebagai masa kejayaannyasang mawar tetap tidaklah sombong dan ketika layu
pun ia harus turun darikedudukannya. Dia tidak akan prustasi namun secara
selangkah demi selangkah dia akan menyesuaikan dirinya untuk memahami dan
menerima serta menyadaribahwa hidup didunia ini tidak ada yang kekal dan abadi.

0 Comments