Aku benci Matahari namun aku merindukan malam
Matahari itu Pencuri. Pejamku dirampas paksa disaat
kehangatan terasa di kedinginan pagi. Matahari itu kejam. Kenyamananku diganggu
dengan senjata ampuhnya yang menembus kaca jendela dipagi hari. Tajam, membuat
kegelapan di tengah pejaman mata menjadi terasa terang benderang.
Matahari itu rakus. Merebut indahnya sesosok benda yang mengerti akan keadaan fisikku dan membantu aku dalam menuntaskan rasa lelah dengan membiarkan aku berbaring di atasnya.
Matahari itu rakus. Merebut indahnya sesosok benda yang mengerti akan keadaan fisikku dan membantu aku dalam menuntaskan rasa lelah dengan membiarkan aku berbaring di atasnya.
Namun, disaat aku mencoba untuk mengalah darinya di pagi
hari, mengumpulkan tenaga dan memaksa tubuh untuk move on dari benda panjang nan empuk itu, aku justru disiksa kembali olehnya.
Matahari sengaja berada tepat di atasku. Ia membuntutiku. Membuatku
merasakan kerinduan yang mendalam akan segelas air mineral dingin. Ia sengaja
membuatku agar mengotak-atik kembali uang saku yang sudah ku perhitungkan
sampai akhir bulan nanti. Ia menggodaku. Aku tergoda olehnya. Aku dehidrasi.
Selain itu, matahari itu berisi keras. Ia berusaha mendorong
keringat agar keluar dan menetes di dahiku. Membuat aku sejenak merasa
terganggu dan mau tak mau aku harus mengusapnya. Ini menggangu, sungguh
mengganggu.
Lantas, apa mau mu kepadaku wahai benda ter-terang di dunia?
Kau mencoba untuk membangunkanku dari alam bawah sadarku di
pagi hari, agar aku hendak memulai aktivitas keseharianku. Namun disaat aku
tersadar dan terlanjur terbakar oleh api semangat, kau menyiramku dengan lahar
panasmu. Sehingga aku berlari dari kerajinanku untuk beraktivitas.
Kapan kau akan pergi? Rasanya membutuhkan waktu lama menunggu
bulan dan bintang mengambil alih posisimu. Aku benci menunggu. Terlebih menunggu
sesuatu untuk datang maupun pergi *eh :D
Aku lelah mengatakan ini tapi sekali lagi, aku rindu malam. Karna
pada malam lah aku mengadu dan menyampaikan keluh kesah yang dilakukan siang
kepadaku hari ini di sana. (dibaca: kampus). Malam mengerti mengapa aku begitu merindukannya,
ia memahamiku. Bukan hanya itu, malam juga berbisik kepadaku, “jangan sungkan. Kamu
berhak mengadu dan memanjakan sendi-sendi tubuhmu yang tak henti bergerak hari
ini kepadaku. Nikmati ! berpuas-puaslah denganku sebelum saat di mana matahari
datang menemuimu (lagi) beberapa jam kemudian”.
0 Comments