Jika aku jadi
nobita mungkin sudah lama (sejak kejadian itu) aku berlutut pada doraemon untuk
mengeluarkan pintu ke mana saja. Jika doraemon bertanya “memangnya kamu mau
pergi ke mana?” dengan senyum aku akan menjawab “kembali ke waktu di mana aku
dan dia bertemu pertama kali”. Asek~~
Rasa sakit kini
terlanjur teraduk dengan rasa sesal. Kata doraemon “menyesal itu tidak
baik, yang kamu butuhkan sekarang hanyalah perbaikan atas apa yang kau sesalkan”. Lantas aku
berpikir, bagaimana caranya aku memperbaiki sesuatu yang telah terjadi karena
kesalahanku dari awal. Aku yang memilih untuk mengenalnya. Aku yang memilih
untuk lebih mengetahui tentang dirinya. Aku yang memilih untuk terjun dalam
kehidupannya. Wajar saja jika pada akhirnya aku yang memilih untuk sakit. Huft~~
Andai. Itulah kata
yang bisa terucap.
Andai saja-- waktu
itu-- kita memilih untuk diam atau setidaknya hanya sebatas mengenal. Tak
lebih! Andai saja waktu yang kita gunakan bersama selama ini hanya sebatas
waktu antara dua orang teman. Andai saja kita tak terbawa oleh derasnya arus
perasaan. Andai saja semua itu tidak terjadi mungkin sekarang kita akan tetap
menjadi teman. Kita akan sering bertemu seperti biasanya. Kita akan sering
berbagi canda dan tawa setiap harinya. Kita tak akan merasa canggung saat
berhadapan. Bahkan kita tak akan diam-diaman, cuek-cuekan dan saling melewati
satu sama lain seperti saat ini.
Kita. Kamu. Bak
orang asing yang tak pernah saling mengenal seperti halnya kita pada saat
pertama bertemu bukan? Tak mengetahui satu sama lain. Hanya bedanya sekarang
tak ada sepercik senyuman pun yang keluar di antara kita. Semua berubah.
Seketika. Seperti sebuah niat kuat untuk saling melupakan dan membuang semua
kenangan dan segala sesuatu yang pernah terjadi di antara kita. Bahkan semua di
akhiri dengan dendam yang di kepal erat di telapak tangan untuk saling membenci
satu sama lain.
Mengapa harus di
akhiri dengan cara sedemikian rupa? Tak adakah cara lain? Setidaknya bukan
untuk kembali dan melanjutkan kisah, hanya sekedar kembali di posisi
masing-masing saat kita pertama bertemu.
Jika doraemon
sekarang bertanya “siapakah objek yang menjadi patokan ke-iri-an mu saat ini?”
aku memilih: teman-teman di sekitarku yang mengenal dia. Mengapa aku iri pada
mereka? Iya, karena sampai saat ini, mereka masih bisa dengan leluasanya
berhubungan denganmu, saling tegur, seperti biasanya. Sedangkan aku? Tak ada
apapun yang bisa aku lakukan denganmu seperti mereka. Memang benar bahwa lebih
susah mempertahankan daripada mendapatkan yang lebih. Setidaknya habitat
teman-temanku untuk saling mengenal denganmu masih tetap bertahan sampai saat
ini dan aku-- yang malah berusaha untuk bersama denganmu lebih lama tapi dengan
mudahnya hilang seketika. kita terasa begitu jauh dan terlahap oleh yang
namanya jarak.
Jika waktu ini bisa
di putar kembali, aku akan memilih untuk tidak mengenalmu lebih sehingga
hubungan antara kita bertahan sebagai seorang teman. Atau bahkan aku akan
memilih untuk tidak sama sekali mengenalmu agar tidak ada rasa suka yang
hanya terpendam dalam hati kepada temannya sendiri atau tidak ada rasa sakit
dan sesal yang ku alami seperti saat ini.
Mengakhiri sebuah
hubungan itu sakit, tapi lebih sakit jika setelah itu kita berpura-pura untuk
menjadi orang asing satu sama lain.
Berbahagialah
kalian yang setelah mengakhiri sebuah hubungan tapi masih terdapat senyum atau
bahkan menjadi teman baik setelahnya, karena ketahuilah banyak orang yang
mendambakan hal tersebut tapi tak terwujud hanya karena keegoisan
masing-masing.

0 Comments