Layaknya anak singa yang mulai dewasa
Dibebaskan untuk mencari jati dirinya di hutan belantara
Yang hanya dibekali dengan pesan singkat
“jaga dirimu dan jangan mengecewakan”

Dua orang di kejauhan sana...
Yang tak terlihat oleh mata telanjang selama lebih dari 300 hari yang lalu
Yang kini terasa butuh jutaan kilometer untuk bisa saling bersentuhan fisik
Yang kini hanya bisa mendengar suaranya melalui sebuah benda imut nan mungil penghubung jarak jauh

Dua orang di kejauhan sana...
Yang tak pernah mengenal terbit dan tenggelamnya sang mentari
Yang tak pernah lelah mencari receh demi receh
Yang tak pernah menghitung berapa kali mengusap tetes keringatnya dalam sehari
Yang terlalu munafik untuk mengakui rasa lelahnya jika sedang berhadapan langsung

Mereka yang seakan berusaha lupa bagaimana caranya mendapatkan secarik kertas bernilai rupiah
Kita yang mengenal bagainmana caranya menghabiskan kertas demi kertas itu
Mereka yang seakan amnesia akan waktu untuk banting tulang
Kita yang dengan sadarnya menyia-nyiakan jam kuliah
Mereka yang tak pernah mengenal menuntut dan mengeluh
Kita yang senantiasa menuntut untuk dikirimkan uang dan mengeluh disaat kehabisan uang dan bahkan marah ketika terjadi keterlambatan pengiriman.
Mereka yang selalu mencoba sabar ketika didesak secepatnya oleh kita untuk segera mengirimkan uang

Dua orang di kejauhan sana...
Ingin rasanya ku lukis wajah polos nan bangga itu
Saat kalian hendak bercerita kepada orang dengan meng-agung-agungkan anak kalian ini
Yang hendak menuntut ilmu di kampung orang dan sedang menjadi seorang calon sarjana

Bukan emas, permata atau pun berlian
Hanya secarik kertas, sepasang baju lengkap bersama topi berwarna hitam dan sebuah tittle sarjana yang kini siap melekat “on behind of my name” yang dapat ku persembahkan sebagai tanda balas jasa untuk pengorbanan kalian selama ini.

Ayah ibu...
Terima kasih untuk jasa kalian yang tak akan pernah bisa ku hitung walau dengan mesin penghitung canggih sekalipun
Terima kasih untuk berapa ribu tetes keringat yang kalian keluarkan selama ini demi menghidupiku selama ini.

Ayah ibu...
Maaf karena telah membuat kalian berjuang di sana hanya untuk membuat masa depanku cerah
Maaf karena telah membuat kalian lelah, mengeluh, putus asa, sakit hati, menahan malu, atau apapun itu hanya demi untuk mencari biaya sekolahku
Maaf untuk perubahan warna rambut kalian dari gelap ke terang karena memikirkan masalah ekonomi yang aku timbulkan

Ayah ibu, ini untuk kalian
Izinkan aku untuk melihat senyuman ditambah setetes air mata bahagia itu
Jangan dihalangi apalagi dihapuskan
Biarkan itu mengalir :')

Ayah ibu, doakan selalu anakmu ini
karena tanpa kalian aku bukanlah apa-apa :*