Hujan itu indah. Indah itu kenangan. Kenangan itu kamu.
Hujan yang menyisahkan kenangan tentang kamu. Iya, mungkin begitulah lebih tepatnya.
Tetes demi tetes yang berjatuhan seakan mampu membuat diri ini pasrah terbasahi olehnya. Terbasahi air mata milik awan itu. Bahkan bermain-main dengannya.
Merebahkan kedua lengan serasa ingin menghirup sebuah aroma. Bak seorang ‘Rose’ yang tengah berdiri di puncak kapal Titanic dengan posisi didekap oleh orang yang dicintainya, ‘Jack’.
Menikmati setiap tetes demi tetesnya. Jatuh perlahan, singgah dipermukaan kulit. Ada yang menetap diam, ada yang jatuh kembali dan pergi di tempat yang lebih rendah. Ada yang menghilang perlahan mengikuti perintah angin atau bahkan menghilang kering dengan sendirinya.
Setiap tetes yang singgah membawa kisah lama yang telah mengering selama musim panas ini. Memaksa otak untuk sekedar melihat kilasan kisah tersebut.
Kisah yang..........
Mungkin tak akan cukup waktu untuk menceritakannya sampai hujan itu reda sekalipun.
Terlalu panjang. Terlalu dipenuhi oleh paragraf. Terlalu susah diingat kembali. Terlalu banyak sejarah. Terlalu sakit.
Hujan  itu tajam.
Begitu tajamnya, ternyata ia bukan hanya sekedar air mata sang awan yang menetes membasahi bumi. Ia mempunyai topeng dan skenario sebagai hujan yang sempurna. Polos. Tapi sesungguhnya ia menyembunyikan keahlian sebagai pisau di dalamnya. Pisau untuk merobek dan membuka kembali fikiran dan ingatan seseorang akan sesuatu yang telah lewat. Ia berbahaya.
Ia mampu membuka kembali kesalahan-kesalahan dan membuat sang tersangka menyadarinya hingga menciptakan sebuah penyesalan.
Ia pun mampu membawa pola fikir seseorang untuk merubah sebuah keputusan yang telah dibuat pada waktu yang sama.
Ia mampu menciptakan tawa kecil disela-selal turunnya ribuan tetes air mata sang awan yang entahlah.. padahal tidak sedang terjadi acara komedi pada saat itu.
Betapa hebatnya hujan. Lebih hebat dari yang kita bayangkan bukan?
Tentu saja.
Karena diam itu bukan berarti tak tahu dan bisu itu tak selalu berarti tak dapat bercerita.
Ia melihat semua peristiwa yang terjadinya tanpa kalian sadari dan dengan sempurnanya men-save peristiwa tersebut di dalam dokumen yang teramat dalam yang jauh dari jangkauan drama dari peristiwa tersebut.
Tidak ada istilah “hanya aku, kamu dan tuhan yang tahu”. Kata sang hujan.
Ia akan membiarkan berbagai musim lewat di depannya hingga saat mereka berlalu dan kembali lagi ke dirinya, dengan tak tahu dirinya, dengan menggunakan program otomatisnya, ia men-open kembali peristiwa tersebut.
Sesuatu yang terjadi dibawah hujan itu, selalu tercatat sebagai sebuah kenangan. Dan jangan pernah mencoba menolak kenyataan bahwa hujan akan membawa kita di keadaan di mana kita mengingat kembali sesuatu yang telah berlalu yang sempat terekam oleh ribuan pasang mata yang melihat kejadian tersebut (baca: ribuan tetes air mata sang awan)
Hujan hanya minta agar “kamu melewatinya tanpa beban apa-apa”