Inilah resiko dimana memendam perasaan itu sungguh sangat menyebalkan. Menyebalkan karena harus menunggu,
menunggu respond kamu yang tak tahu kapan datangnya. Menyebalkan karena harus
sabar, sabar entah sampai kapan kamu sadar bahwa di sini ada yang
memperhatikanmu, disini ada yang berharap untuk di gubris lebih, disini ada
yang berharap untuk dibalas mentionnya. Menyebalkan karena harus menyita waktu,
waktu yang seharusnya aku gunakan untuk hal-hal yang mungkin jauh lebih baik
daripada aku harus jadi stalker gak jelas yang ngintipin te-el kamu tiap hari,
menyita waktu yang mungkin lebih baik buat kerajinan tangan misalnya.. daripada
aku harus foto-foto gak jelas pake huruf-huruf yang bertuliskan “HBD Yaa.. wish
you all the best” dan yang akhirnya aku gak berani kirim, dan mungkin kalo aku
kirim juga kamu Cuma bilang “thanks yah”.
Semua itu
menyebalkan, Semua itu mengandung harapan. Harapan biar kamu sadar kalo ada
orang yang nunggu kamu dibalik orang-orang yang nolak kamu. Mungkin nasib
seorang pengagum emang gini, aku nganggap ini cinta tapi kamu menganggap aku
bodoh. Aku menganggap ini perjuangan tapi kamu menganggap aku lebay. Mungkin butuh
penantian panjang, yang tak tahu panjangnya sampai dimana. Dan mungkin butuh
perubahan yang tak tahu aku harus menjadi siapa agar kamu bisa melihatku.
Apakah aku harus
menjadi dia? Dia? Atau dia? Yang pernah kamu katakan cinta tapi mereka
menolaknya? Menjadi diri sendiri itu lebih baik tapi kenapa dengan diri ini aku
tak terlihat sebagai siapa-siapa dimatamu. Aku hanya seseorang yang tiba-tiba
lewat dihadapanmu, memandangmu tanpa sengaja, berusaha menjalin keakraban
denganmu tapi kamu menganggapnya “sok akrab”.
Lantas, siapa
mereka? Yang tiba-tiba lewat dihadapanmu, memandangmu tanpa sengaja, pergi dan
meninggalkanmu bahkan tak berniat mengenalmu lebih tapi kau mengejarnya, berusaha
menjalin keakraban dengannya, mendekatinya dengan caramu, hingga akhirnya
mengungkapkan perasaanmu. Itu sangat tak adil bagiku. Sungguh sangat tak adil.
Aku memang bukan
siapa-siapa, tapi aku berusaha mencoba mengubah bukan siapa-siapa itu menjadi
siapa-siapamu. Mungkin caraku salah tapi mungkinkah jika aku tak memberanikan
diri menjadi sok akrab denganmu, dengan gaya sok cuek seakan tak punya rasa
kepadamu, pergi dan meninggalkanmu layaknya mereka, mungkinkah kamu akan mengejarku
dan punya rasa terhadapku seperti mereka? Mungkin tidak bahkan mungkin lebih parah, mungkin jika aku seperti itu sampai saat ini aku hanyalah seseorang yang berharap untuk kamu kejar tanpa tahu siapa namamu dan seperti apa kamu.
Mungkin mengagumi
memang sudah diperuntunkan untukku. Hanya sekedar mengagumi, tak lebih. Hanya sekedar
memandangmu, dan tak dipandang balik. Hanya sekedar jadi stalker te-el mu, dan
tak di stalkback olehmu :’) iya, mungkin hanya begitu :’)
*Thanks for reading
{}
0 Comments