Well.. silverqueen hanya sebuah istilah. Istilah untuk apakah
itu? Mari meminyak, eh nyimak..
Aku punya cokelat

Dulu aku tak suka cokelat itu. Yaa.. tidak benci juga. Awalnya
aku baru tau cokelat itu sekilas akhirnya seiring waktu berjalan, namanya
silverqueen.
Dia manis, lembut, ada kacang medenya sih yang membuat dia
sedikit berstruktur keras tapi justru kacang mede tersebut yang membuat dia
unik dan lebih enak. Kesimpulannya, kacang mede yang berstruktur keras itu
bukan menjadi kekurangan malah menjadi kelebihannya.
Suatu hari, aku sadar bahwa aku jatuh cinta pada cokelat
ini. Aku sudah sempat meyakinkan diri untuk jatuh cinta kepadanya seumur
hidupku. Nah, si cokelat juga nampaknya senang di jatuh cintai olehku.
Sampai ada satu fase dimana aku merasa ada yang kurang kalau
dalam sehari tidak melihat atau mengkonsumsi si cokelat. Rasanya ada yang
kurang, bisa dibilang silverqueen adalah moodboosterku karena jujur saja, hari
burukku di lingkungan tempat tinggal maupun kerja bisa auto membaik jika aku
mengkonsumsi silverqueen. Jangankan mengkonsumsinya, melihatnya pun sudah bisa
memperbaiki moodku. Nah, karena dia mampu menjadi moodboosterku, maka
sejujurnya dia juga sangat mampu menjadi moodbreakerku. Ketika dia habis di toko,
sudah dicari di toko manapun tapi tak ada, tak bisa dikonsumsi, hariku seakan
menjadi auto buruk.
Yah begitulah.. senang dan sedihnya bisa jatuh cinta kepada
cokelat yang satu ini
Sampai pada akhirnya, aku menyadari suatu hal.
Bahwa, ketika aku mengkonsumsinya, terlalu sering mengkonsumsinya,
gigiku sakit. Aku ditegur. “Jangan terlalu banyak mengkonsumsi cokelat! Makan nasi
juga! Makananmu tidak meluluk harus cokelat!”
Aku sempat menepisnya, bagiku “ah, emang udah saatnya aja
sakit gigi” atau mungkin “ah, makan cokelat dan sakit gigi itu wajar, udah
konsekuensinya. Dari awal aku udah tau kalau akan sakit gigi tapi aku tetap
saja memakannya. Ya gimana, namanya juga suka ”.
Lalu akhirnya, setelah sakit gigi, datang lagi satu hal yang
mana membuatku harus meninggalkan cokelat manis tersebut pas lagi enak-enaknya
dimakan
Suatu hari, cokelat ini melumer tapi jujur, dari dalam
hatiku terdalam, aku tak masalah pun walaupun dia melumer, sampai dia jadi
cokelat cairpun aku tetap akan suka. Tapi pada saat yang sama, aku ditegur lagi
bahwa kalau aku masih makan cokelat, selain sakit gigi, aku akan kena magh dan
cokelat tersebut akan menjadi tidak enak dan turun nilai jualnya dimata
konsumen. Aku tidak mau magh tapi aku jauh lebih tidak mau kalau dia menjadi
tidak enak dan tidak laku di mata konsumen.
Aku ditawari untuk melepaskannya pas lagi enak-enaknya
dimakan. Dilepaskan ya, bukan dibuang
aku pun ditawari, jika aku melepaskannya beberapa saat, si cokelat akan upgrade
dirinya sehingga menjadi lebih enak, lebih diminati oleh konsumen. Tapi dengan
satu konsekuensi yang mana pada saat aku melepaskannya, aku atau cokelat
tersebut harus pasrah untuk saling kehilangan.
Aku tanpa cokelat dan cokelat
dengan segala perjuangannya karena dilepaskan dan dibiarkan digerogoti oleh
semut-semut. Hingga akhirnya, tergeruslah di cokelat ini sampai tidak layak
makan.
Karena demi peng-upgrade-an diri, si cokelat harus rela
berjuang dan sakit hati karena tidak dimakan lagi olehku. Tapi disatu sisi,
jaminannya adalah jika aku rela untuk membiarkannya seperti itu, aku akan
dihadiahi cokelat yang sama dengan sisinya yang berbeda. Lebih jauuuuh lebih
enak dan tentunya lebih berkualitas. Namanya chunky bar.
Yups.. chunky bar
adalah cokelatku yang sama tapi dengan tampilan dan rasa yang lebiiiih enak. Kacang
mede tetap masih ada, bahkan walaupun kacang medenya itu kadang membuatku emosi
karena ngeyel, udah dibilangin.. jangan masuk di lubang gigiku, eh malah masuk. Nyebelin
kan? Tapi yah.. itulah yang menjadi seninya menikmati silverqueen.
Nah.. masalahnya adalah aku sangat menginginkan chunky bar
tapi hatiku belum rela melepaskan silverqueen yang belum chunky itu sekarang. Walaupun
dia belum chunky tapi aku nyaman dengan segala kesederhanaanya. Jika memikirkan
tentang harus melepaskannya dulu, rasanya aku ingin dia begitu saja selamanya
daripada aku kehilangannya.
Tapi aku sadar, aku tidak boleh egois. Aku sakit tapi dia
akan jauh lebih sakit. Udah terancam melumer dan tidak laku dipasaran, masa
sekarang harus tidak terupgrade karena memikirkan aku yang tidak rela
melepaskannya.
Sebenarnya, kelihatannya, si cokelat lebih tidak rela untuk
dilepaskan. Dia pun sedang berusaha mengumpulkan nyawa untuk mengupgrade
dirinya sendiri. Tapi, yang aku takutkan sekarang adalah, dia merasa bahwa aku
membuangnya padahal tidak sama sekali. Aku melepaskannya karena aku tidak ingin
aku sakit gigi dan magh terlebih karena aku gak mau dia melumer, gak laku
dipasaran dan tidak menjadi chunky. Harapanku adalah dia mampu, mau berusaha
dan sabar dalam beberapa waktu ini untuk mengupgrade dirinya walaupun tanpa aku
disamping.
Yang perlu si cokelat tahu dan tandai garis keras adalah walaupun
aku nanti tak nampak lagi di depannya, aku selalu berharap sambil memohon
kepada sosok yang menawariku chunky bar untuk mempertemukan aku lagi dan dia di
waktu yang berbeda. Memohon agar jangan sampai dia membenciku suatu saat lalu
tak mau lagi dikonsumsi oleh aku karena berfikiran bahwa aku telah membuangnya.
Aku memohon agar dia tak habis ditoko nanti ketika sudah menjadi chunky karena
walaupun dia tidak mengetahuinya, sesungguhnya setiap saatnya aku selalu
menunggu kedatangannya.
Dear cokelatku...
yang bisa ku ucapkan saat ini adalah
baik-baik ya kamuuu. Semangat dalam mengupgrade label silverqueenmu. Yakinlah,
menjadi chunky sudah ada di hadapanmu jika kamu mau bersabar dan mau berusaha
karena satu hal yang harus kamu ingat, menjadi baik itu akan tertutupi dengan
sesuatu yang mau menjadi baik. Intinya adalah sebuah kemauan untuk berubah. Aku
yakin kamu bisa karena bagiku kamulah cokelat terenak diantara semua jenis
cokelat.



0 Comments